Terlentang aku
Seenaknya
Dalam pelukan
Bukit-bukit batu
Bertenda langit biru
(Seorang anak entah berkebangsaan apa
Mengikuti arah mataku
Dan dalam isyarat bertanya-tanya
'Kapan Tuhan turun?'
Aku tersenyum)
Setan mengira dapat
mengendarai matahari
Mengusik khusyukku
Apa tak melihat
Ratusan ribu hati yang putih
Menggetarkan bibir
Melepas dzikir
Menjagaku
Jutaan milyar malaikat
Menyiramkan berkat
(Kulihat diriku
terapung-apung
Dalam nikmat
Dan si anak entah berkebangsaan apa
Seperti melihat
Arak-arakan karnaval
Menari-nari dengan riangnya)
Terlentang aku
satu di antara jutaan
tumpukan dosa yang
Mencoba menindih
Akankah kiranya bertahan
Dari banjir airmata
Penyesalan massal ini?
(Gunung-gunung batu menirukan tasbih kami
Pasir-pasir menghitung wirid kami
Dan si anak yang aku tak tahu berkebangsaan apa
Tertidur
Di pangkuanku
pulas sekali)
1415
K.H. Musthofa Bisri, @gusmusgusmu
Seenaknya
Dalam pelukan
Bukit-bukit batu
Bertenda langit biru
(Seorang anak entah berkebangsaan apa
Mengikuti arah mataku
Dan dalam isyarat bertanya-tanya
'Kapan Tuhan turun?'
Aku tersenyum)
Setan mengira dapat
mengendarai matahari
Mengusik khusyukku
Apa tak melihat
Ratusan ribu hati yang putih
Menggetarkan bibir
Melepas dzikir
Menjagaku
Jutaan milyar malaikat
Menyiramkan berkat
(Kulihat diriku
terapung-apung
Dalam nikmat
Dan si anak entah berkebangsaan apa
Seperti melihat
Arak-arakan karnaval
Menari-nari dengan riangnya)
Terlentang aku
satu di antara jutaan
tumpukan dosa yang
Mencoba menindih
Akankah kiranya bertahan
Dari banjir airmata
Penyesalan massal ini?
(Gunung-gunung batu menirukan tasbih kami
Pasir-pasir menghitung wirid kami
Dan si anak yang aku tak tahu berkebangsaan apa
Tertidur
Di pangkuanku
pulas sekali)
1415
K.H. Musthofa Bisri, @gusmusgusmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar